Minggu, 03 Februari 2013

Buyar karena 3 huruf

              kulangkah kan kaki kecilku tanpa alas tanpa bantal. kerikil tajam batu kelewang sudah banyak menyandung maupun terinjak. sudah biasa itu kata kakiku. epidermis kulit kaki sudah mengapal. mereka sudah tak terasa seakan pijat refleksi secara cuma-cuma. berjalan terus berjalan. dan suatu ketika ku dapati si cantik berdarah muda dipinggir jalan. entah sedang mengemis atau apa. yang terpenting dia itu cantik. melibihi mawar yang segar baru mekar. peringainya proposional. otak yang tak rasionalpun akan menyukainya, inilah kecantikan yang absurd tak dibuat-buat. kuasa tuhan. kesubhanallahan illahi. 
                 aku memandangnya, dia juga memandangku. aura positif datang menerjang. angin segar melebihi belagio atau apapun tak akan aku sia-siakan. ini kesempatan emas bahkan lebih dari diamond. kudekati dirinya dengan jurus-jurus jitu. pujian demi pujian kulontarkan. canda tawa aku semprotkan agar dia tak bosan dan tertarik padaku. mukanya merah bagai buah naga. makin merah makin manis. untung semut-semut tak terangsang. untung pula kemanisan ini tak menyebabkan diabetes. inikah manis surga. hahaha. dia mulai berani membalas. aku terus juga meladeninya. tanpa sadar, aku tak tahan. sungguh tak tahan. tak kuasa aku menahannya. ini sungguh berat. hal ini paling berat tuhan. akan aku lepaskan sekarang juga tak tahu secara apa. tiba-tiba dut. mukaku merah karena suara itu begitu keras. usahaku yang tadi sirna sia-sia. malu ringkuk wajah kutempelkan kebawah. gara-gara dut. bidaadari tak bersayapku musnah tenggelam dari mata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar